Alangkah Lucunya (Negeri Ini)


Hari Selasa yang lalu saya akhirnya bisa memuaskan rasa penasaran saya atas film Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Ditemani oleh adik yang kebetulan pulang ke rumah hari itu, kami memutuskan untuk menonton pada jam 16.50, sepulang jam kerja saya.

Sesampai di studio 21, yang terletak di lantai IV Duta Mall, kami segera memesan tiket. Dan ternyata, sedikit sekali yang menonton film ini😦

Ok, tanpa banyak cerita, mari kita mulai bercerita tentang film ini…

Diceritakan Muluk, seorang Sarjana Manajemen, putra pak Makbul, sedang pontang panting mencari kerja. Karena tak kunjung mendapat pekerjaan, Muluk mulai berpikiran untuk membuka usaha sendiri, yakni beternak cacing. Namun pertemuan kembali dengan seorang copet yang pernah ditemuinya membuat rencana berubah.

Melalui Komet, nama anak itu, Muluk diajak bertemu dengan kawan-kawan seperjuangannya, serta big bos mereka. Dalam kesempatan itu Muluk menawarkan kerja sama kepada anak-anak pencopet itu. Tawarannya adalah Muluk akan menjadi pengelola uang mereka dengan tujuan agar uang tersebut nantinya dapat menjadi modal usaha bagi para pencopet itu, sehingga mereka bisa berhenti mencopet. Proposal diterima, dan sejak hari itu Muluk resmi menjadi manajer bagi para pencopet tersebut dengan bayaran 10% dari pendapatan para pencopet itu.

Usaha Muluk berjalan lancar. Bahkan dia berhasil mengajak Pipit -anak Haji Rahmat, yang kerjanya tiap hari ikut kuis berhadiah-, dan Samsul -sarjana pendidikan yang kerjanya main gaplek tiap hari- untuk membantunya memberi pelajaran agama dan membaca kepada anak-anak pencopet itu. Masalah muncul ketika orang tua Muluk dan Pipit mengetahui pekerjaan anak-anaknya. Dengan tegas orang tua Muluk dan Pipit mengatakan tidak mau menerima uang dari pekerjaan yang tidak halal. Lantas apakah Muluk akan tetap melanjutkan usahanya?

Film ini, seperti yang sudah disebutkan merupakan sindiran untuk negeri ini. Ada korupsi, Cicak dan Buaya hingga anggota DPR. Dibungkus dengan komedi, film ini berhasil menyentuh kita akan kondisi negeri kita sekarang. Selain sindiran, film ini juga memasukkan unsur nasionalisme, moral, dan tak ketinggalan masalah agama. Benar-benar mengingatkan kita betapa 3 hal tersebut sudah semakin tergerus di negeri kita.

Secara keseluruhan, film ini merupakan film yang wajib ditonton. Akting pemainnya jempolan serta tidak membosankan. Selain itu pesan yang ingin disampaikan pun tidak berkesan menggurui. Satu hal yang saya kagumi dari Dedy Mizwar adalah, beliau bisa membuat film bermutu dan enak ditonton tanpa perlu memasukkan unsur seks dan kekerasan. Sungguh jauh berbeda dengan kebanyakan film sekarang, yang mana selalu memasukkan unsur seks sebagai pemanisnya.

Jika ada hal yang membuat saya terganggu saat nonton film ini adalah iklan yang nampang di film ini. Kalo dihitung setiap beberapa puluh menit sekali pasti akan muncul iklan. Dan yang benar-benar ga bisa saya terima adalah, masa iya tiap kali Muluk bertandang ke rumah H. Rahmat atau calon mertuanya, makanan yang disajikan adalah Sozis?🙂

Previous Post
Leave a comment

42 Comments

  1. hihihi… berarti banyak iklan dari kang deddy dong…eniwei, macam Nagabonar Jadi 2 ga bagusnya?kalo masalah akting, deddy mizwar ga diragukan lagi… tapi kok kayaknya minim apresiasi dari masyarakat ya mengenai film2 jenis kayak gini?

    Reply
  2. ayanapunya said: tiap kali Muluk bertandang ke rumah H. Rahmat atau calon mertuanya, makanan yang disajikan adalah Sozis

    hahaha. iya tah?

    Reply
  3. Hiks, g biasa nonton film😀

    Reply
  4. thebimz said: hihihi… berarti banyak iklan dari kang deddy dong…eniwei, macam Nagabonar Jadi 2 ga bagusnya?kalo masalah akting, deddy mizwar ga diragukan lagi… tapi kok kayaknya minim apresiasi dari masyarakat ya mengenai film2 jenis kayak gini?

    kalo menurutku masih lebih bagus Naga Bonar jadi 2…soalnya ada beberapa adegan yang agak lebay :)Iya nih Bim, di sini aja yang nonton dikit banget. Kurang promosi kali ya…

    Reply
  5. malambulanbiru said: hahaha. iya tah?

    iya des…masa iya bawain makanan buat calon mertua Sozis? trus pas datang ke rumah Pipit Sozis lagi makanannya…😀

    Reply
  6. ivoniezahra said: Hiks, g biasa nonton film😀

    biasa baca buku ya von? heheaku juga jarang kok nonton film🙂

    Reply
  7. penuh pp(product placement)….?? hehe..terbukti, kalo Deddy Mizwar masih jadi “raja” iklan..

    Reply
  8. Namanya pp ya?hehe..

    Reply
  9. kalo g salah..berarti betul..hehe..belajar dari korean drama..

    Reply
  10. Kali emang bangsanya Nanda yg sozis efriwer…

    Reply
  11. @piano: drama korea?mksdnya?@bunda: klo ulun lbh milih martabak ketimbang sozis bun.hehe

    Reply
  12. Aku gin Yan… Pernah kucoba merasai, pyuuuh..handak huek :p

    Reply
  13. teteup pengen nongton(meski gak suka Sozis)

    Reply
  14. pgn nonton..

    Reply
  15. wah, kl sy nontonnya mgkn nunggu diputer di tivi..

    Reply
  16. Tfs ya…:)hm,cara halus iklan lewat di film🙂

    Reply
  17. di sana yang nonton dikit?di JKT penonton dikit itu klo pas tanggung bulan hehepengen nonton, tp gak tau masih tayang gak di bioskop deket rumah..

    Reply
  18. Berapa kali ngobrol sama Om Dedi tentang ide-ide filmnya yang cuma jadi buih di laut, berapa kali juga dijawabnya kalo siapapun yang jadi warga negara di Indonesia ini wajib mengkritisi buat negeri ini jadi lebih baik dan baik…Jadi kangen waktu ngobrol-ngobrol di Cibubur waktu “Sebelum Naga Bonar (Jadi) 2 Dibuat”,Om Dedi ngobrolin tentang ide kreatifnya di film itu, sedang saya cuma ngaco-ngacoin aja Ide-ide masyarakat itu kelewat luas dan banyak, hingga disarikan dengan menarik di film-filmnya Om Dedi ini…

    Reply
  19. langsung banting celengan buat beli tiket

    Reply
  20. Hmm, kurang promosi nih kayaknya… sedikit sekali temen MP yang nonton dan mengulas film ini😛

    Reply
  21. darnia said: teteup pengen nongton(meski gak suka Sozis)

    sukanya apa dan?😛

    Reply
  22. apriadina said: pgn nonton..

    yuk nonton…..

    Reply
  23. fitrinurhati said: wah, kl sy nontonnya mgkn nunggu diputer di tivi..

    knp mba?

    Reply
  24. nitafebri said: di sana yang nonton dikit?di JKT penonton dikit itu klo pas tanggung bulan hehepengen nonton, tp gak tau masih tayang gak di bioskop deket rumah..

    iya…kurang promosi sama akhir bulan kalinah sekarang di sini dah ada iron man 2…kayaknya bakal kegusur ni film😦

    Reply
  25. iya mas lukman….bang Dedi Mizwar selalu pinter ngambil ide-ide sederhana buat dijadiin film..tapi kenapa sih kesannya buat film sebagus ini promosinya kurang?

    Reply
  26. boemisayekti said: Tfs ya…:)hm,cara halus iklan lewat di film🙂

    wah kalo ini iklannya nampak banget yan🙂

    Reply
  27. utuhspeedy said: langsung banting celengan buat beli tiket

    km masih pake celengan bud?😛

    Reply
  28. masfathin said: Hmm, kurang promosi nih kayaknya… sedikit sekali temen MP yang nonton dan mengulas film ini😛

    iya yan…aku nyari reviewnya di MP susah banget…apa emang ga ada yang minat nonton ya?

    Reply
  29. ayanapunya said: iya mas lukman….bang Dedi Mizwar selalu pinter ngambil ide-ide sederhana buat dijadiin film..tapi kenapa sih kesannya buat film sebagus ini promosinya kurang?

    ‘Luqman’, bukan ‘Lukman’. Pake “Q” bukan pake “K”, koreksi dikit ya Permasalahannya pasti bukannya karena kurangnya promosi, meski emang mahal biaya promosi itu. Asal tau aja kenapa rokok mahal, padahal biaya produksi satu bungkus rokok itu nggak lebih dari 2 ribuan, sisanya masuk elemen branding, biaya buat ngatrol penjualan. Begitu juga dengan produk-produk lain, semua sama, biaya branding itu yang utama. Toh dengan branding, produk jadi jauh lebih dikenal pasar, lebih memasyarakat, de-el-es-be-ge. Lantas kenapa yang jadi masalah pertanyaannya pada promosi yang kurang? Promosi filmnya Om Dedi ini bisa jadi udah lumayan gencar, efektif nggaknya itu yang sering ditanyain. Gaungnya ini yang akhirnya sering dibicarain, toh film-film Indonesia yang marak sekarang ini genrenya nggak jauh-jauh dari HVS, Horror, Violance & Sex. Banyak orang muntah ngeliatnya, ngelirik gedung bioskop juga ogah. Lah giliran ada ‘film aneh’ berjudul “Betapa Lucunya Negeri Ini”, orang juga ngerasa aneh. Bagian apalagi dari HVS nih meski itu jelas beda. Salah kaprah pasti… Pun tingkat daya beli masyarakat atas tontonan yang relatif berkualitas juga kurang. Beda banget sama film-film bergenre HVS ini sendiri. Tanpa promo gencar sekalipun, dilempar ke pasar, sedikitnya 500 ribu penonton siap ngerogoh kocek buat ngeliat segala sesuatu yang berbau hantu, kekerasan juga esek-esek. Biaya murah-meriah, udah bisa balik modal. Ini industri lho, industri film, jangan lupa. Meski misalnya dikatakan kurang promosi, kalo dinyatakan udah balik modal apalagi nangguk untung juga udah oke banget. Selebihnya mengenai pendidikan masyarakat, ya pinter-pinter masyarakatnya juga mengasupi ranah otaknya dengan tayangan-tayangan yang kayak apa dan macam mana…* Eh, ini udah mulai cerewet ya, komentar kok panjang banget…

    Reply
  30. dalam drama “On Air” , ttg pembuatan drama, disinggung ttg pp. PP biasanya dipesen ma sponsor, supaya aktris/aktor menggunakan sbh produk dalam adegan, dan ini yang biasanya dibenci sama script writer, krena bisa mengacaukan cerita..sekian

    Reply
  31. saya jadi ingat pas nonton nagabonar jadi 2 dulu mas Luqman…pas saya nonton masih dikit aja orangnya. taunya beberapa bulan kemudian dapat berita kalo penontonnya udah sampe sejuta. moga-moga aja Alangkah Lucunya juga bisa begitu.Tapi bener lo saya ga pernah liat trailer film ini di tivi. Beda banget sama yang genre HVS itu. Promosinya ga cuma lewat trailer, lewat skandal juga ^_^Btw, makasih koreksinya ya…

    Reply
  32. pianochenk said: dalam drama “On Air” , ttg pembuatan drama, disinggung ttg pp. PP biasanya dipesen ma sponsor, supaya aktris/aktor menggunakan sbh produk dalam adegan, dan ini yang biasanya dibenci sama script writer, krena bisa mengacaukan cerita..sekian

    belum pernah liat drama itu…but makasih infonya ya🙂

    Reply
  33. masih celengan ayam kaato celengan kuda

    Reply
  34. utuhspeedy said: masih celengan ayam kaato celengan kuda

    aku bahari celengan iwak pang🙂

    Reply
  35. ayanapunya said: aku bahari celengan iwak pang🙂

    kawa bakunyung tu…

    Reply
  36. dan aku masih lum nontoonn…oh bos..gajiku manaa??

    Reply
  37. dan aku masih lum nontoonn…oh bos..gajiku manaa??

    Reply
  38. arddhe said: dan aku masih lum nontoonn…oh bos..gajiku manaa??

    Udah… jadi prilenser aja…

    Reply
  39. arddhe said: dan aku masih lum nontoonn…oh bos..gajiku manaa??

    hari ini dah gajian kan di?

    Reply
  40. luqmanhakim said: Udah… jadi prilenser aja…

    kirain tadi dispenser mas😛

    Reply
  41. luqmanhakim said: Udah… jadi prilenser aja…

    sedang dirintis mas..hehe

    Reply
  42. AKU SUKA BANGET SAMA pelem iniiiiiidan ya, iklan itu mengganggu

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

sriwidiastuti

Just another WordPress.com site

Anastasye Natanel

the random things in life

rosimeilani.com

Rosi Berbagi Informasi Seputar Inggris, Travel dan Tips Menulis

%d bloggers like this: