Two Travel Tales


Cerita mba Ade Nastiti menyusuri India dimulai dari Ladakh. Bagi yang pernah menonton 3 Idiots, pastinya akan terpesona dengan danau yang muncul di adegan terakhir film tersebut. Ya, di daerah Ladakh inilah lokasi danau tersebut berada, dengan nama Pangong Tso.

Ketika menjejakkan kakinya di Leh, ibukota Ladakh, negara bagian tersebut ternyata baru saja dilanda banjir. Meski begitu, hal ini tidak menyurutkan niat mba Ade untuk bisa sampai di Pangong Tso. Dengan bantuan seorang sopir taksi, mba Ade menyusuri jalan-jalan di kota tersebut. Sayangnya kondisi udara yang minim menyebabkan Ade Nastiti jatuh pingsan. Selama berhari-hari kemudian, Ade Nastiti terperangkap di sebuah desa terpencil di pegunungan Himalaya, dan dirawat oleh seorang nenek bernama Dolma.

Dalam kondisi tubuh yang masih sakit, mba Ade tetap merencanakan untuk pergi ke Kardhung La dan Pangong Tso, dua tempat yang memang menjadi tujuan utamanya. Sayangnya keinginannya tersebut nyaris tidak mungkin diwujudkan. Untuk bisa mengunjungi Khardung La, pengunjung diharuskan melewati banyak check point. Hal ini dikarenakan letaknya yang berbatasan dengan Cina dan Pakistan. Selain itu untuk warga non-India yang ingin berkunjung kesana diharuskan memiliki izin khusus, dan hal inilah yang tidak dimiliki Ade Nastiti.

Beruntung selama masa evakuasi, mba Ade Nastiti menjalin hubungan yang cukup baik dengan salah satu sukarelawan bernama Mr. Kurjeet Singh. Orang inilah yang kemudian membantu Ade Nastiti mewujudkan keinginannya mengunjungi Khardung La, bahkan lebih cepat ketimbang backpacker lain yang juga ingin ke sana. Selain Khardung La, mba Ade Nastiti juga berhasil menjejakkan kakinya di Pangong Tso, dan SECMOL, sekolah yang menjadi inspirasi di film 3 Idiots.

Setelah menuntaskan impiannya mengunjungi Pangong Tso, tak disangka Ade Nastiti lagi-lagi mendapat kesempatan untuk kembali ke India. Kali ini melalui sebuah program pelatihan 10 minggu di India dan Nepal.

Selama 10 minggu inilah Ade merasakan sendiri bagaimana kehidupan di India, berkenalan dengan teman-teman baru, hingga membentuk sebuah kelompok bernama Cara Ibdradhanu’a yang berarti empat pelangi. Adalah Pooja, seorang gadis asli India, yang menjadi salah satu kawan terdekat mba Ade Nastiti. Dalam buku ini, Pooja digambarkan sebagai sosok yang mewakili generasi muda India saat ini. Ia sangat percaya diri, terkesan agak sombong, show off, dan suka menjadi pusat perhatian.

Tentang hal ini, Manoj, kakak angkat mba Ade di Delhi memberikan penjelasan.

“Bayangkan saja, De, penduduk kami sekarang sudah lebih dari 1 miliar dan akan terus bertambah, sementara resource kami tak berubah. Sejak lahir kami sudah harus bersaing dengan sangat ketat. Kami sadar, jika kami tumbuh biasa-biasa saja, tidak outstanding, kami hanya akan meneruskan tradisi kemiskinan keluarga, akan memenuhi jalan-jalan kumuh di India, tinggal bertumpuk-tumpuk di bedeng jorok, berebut kamar mandi setiap pagi dan makan chappati basi. Atau jika tidak, kami akan menjadi imigran di Eropa, Singapura, atau Malaysia; menjadi spir taksi atau cleaning service. Jadi harus dimaklumi kalau kami seolah selalu bergegas, tak boleh ketinggalan sedetik pun.” (hal. 200).

Selain mengikuti pelatihan, waktu 10 minggu tersebut dimanfaatkan mba Ade Nastiti untuk kembali menjelajahi sudut-sudut kota dari negerinya Shahrukh Khan ini. Menyaksikan bagaimana paradoks-nya kota Delhi, mengunjungi Amritsar, negerinya para Punjabi dimana beliau berkesempatan menyaksikan sendiri parade penurunan bendera yang dilakukan setiap hari di perbatasan India an Pakistan, tak lupa juga beliau menyusuri Sungai Gangga yang begitu terkenal itu berikut kota-kota di sekitarnya, dan terakhir, mengunjungi Gurgaon, sebuah kota yang disebut-sebut sebagai simbol kebangkitan India.

***

Membuka wawasan dan kaya warna, itulah yang bisa saya ungkapkan setelah selesai membaca buku mba Ade Nastiti yang satu ini. Bagaimana tidak? Selama ini saya hanya mengenal India dari film-film Bollywood yang sudah menemani saya sejak kelas 4 SD. Nama-nama seperti Sungai Gangga, kota Bombay (sekarang Mumbai), gadis dengan kain sari, perayaan diwali, bukanlah hal yang asing bagi saya. Namun melalui buku ini, saya baru sadar begitu banyak hal yang tidak saya ketahui tentang India.

Dalam salah satu perjalanannya misalnya, mba Ade menceritakan bagaimana ia hampir saja memasuki tempat ibadah pemeluk agama Sikh, yang sepintas sangat mirip dengan mesjid. Mba Ade juga bercerita tentang pengalamannya menunggu kereta api selama berjam-jam saat akan mengunjungi Amritsar dan tentunya kerinduan beliau akan makanan daging karena rata-rata penduduk India adalah vegetarian.

Membaca buku ini membuat saya menemukan sebenarnya dari negara India. Jauh dari kesan mewah yang selalu ditampilkan dalam film-film Bollywood, namun tetap menyisakan keindahan untuk dicintai.

NB : Jika ingin melihat foto-foto perjalanan mba Ade Nastiti secara lengkap, bisa mampir ke MP beliau di http://adesiti.multiply.com/photos/album/88/Travelogue-Ladhakh-Jammu-Kashmir-India#photo=18

Previous Post
Leave a comment

22 Comments

  1. Yan, buku ini menceritakan kisah perjalanannya Mbak Ade, kan?Fakta?Saya belum pernah baca satupun buku2nya. Duh, berasa hidup di jaman apa gitu kalau jarang baca buku2 Indonesia :((

    Reply
  2. anazkia said: Yan, buku ini menceritakan kisah perjalanannya Mbak Ade, kan?Fakta?Saya belum pernah baca satupun buku2nya. Duh, berasa hidup di jaman apa gitu kalau jarang baca buku2 Indonesia :((

    iya, mba. ini catatan perjalanan mba Ade waktu ke India. sayang foto-fotonya nggak berwarna. dan kayaknya lebih puas liat foto-fotonya di MP beliau. hehe

    Reply
  3. ayanapunya said: iya, mba. ini catatan perjalanan mba Ade waktu ke India. sayang foto-fotonya nggak berwarna. dan kayaknya lebih puas liat foto-fotonya di MP beliau. hehe

    Ada MP juga? Bukannya blog dia di WP, Yan?

    Reply
  4. anazkia said: Ada MP juga? Bukannya blog dia di WP, Yan?

    ada, mba. adesiti.multiply.com

    Reply
  5. ayanapunya said: ada, mba. adesiti.multiply.com

    Yan, Mbak Ade dah nikah belum?Ih soalan gak sopan ini

    Reply
  6. anazkia said: Yan, Mbak Ade dah nikah belum?Ih soalan gak sopan ini

    udah, mba. anaknya aja umurnya udah 18 tahun😀

    Reply
  7. ayanapunya said: udah, mba. anaknya aja umurnya udah 18 tahun😀

    Waaaaa. kok masih kelihatan muda githu?

    Reply
  8. wah jadi pengen ke India,tapi belum kesampean .

    Reply
  9. anazkia said: Waaaaa. kok masih kelihatan muda githu?

    iya, mba. di buku ini mba ade juga cerita kalau beliau sering dikira masih berumur 20-an pas di india sana😀

    Reply
  10. Haha jd inget pengalaman dia pas ke kuil k***sut*a. Aku suka buku ini, bikin ngiri karena pingin jalan2 ke sana jugaaa haaa… All izz well-all izz well…

    Reply
  11. punyaaaa bukunya.. dah ku kasih siapa ya?

    Reply
  12. td nya ulun kira ini buku novel :Dbtw, ulun br tau kalo trnyata 3 idiots itu bnr2 terinspirasi oleh sekolah yg memang bnr2 ada di ladakh sana. hmm..

    Reply
  13. sumart74 said: wah jadi pengen ke India,tapi belum kesampean .

    saya juga dari dulu pengen ke India🙂

    Reply
  14. masfathin said: Haha jd inget pengalaman dia pas ke kuil k***sut*a. Aku suka buku ini, bikin ngiri karena pingin jalan2 ke sana jugaaa haaa… All izz well-all izz well…

    haha, iya yang kuil itu. aku baru tau ternyata ada kuil khusus untuk itu :))

    Reply
  15. tintin1868 said: punyaaaa bukunya.. dah ku kasih siapa ya?

    waa..mba tin, bukunya langsuh dikasih ke orang habis dibaca?

    Reply
  16. nora23 said: td nya ulun kira ini buku novel :Dbtw, ulun br tau kalo trnyata 3 idiots itu bnr2 terinspirasi oleh sekolah yg memang bnr2 ada di ladakh sana. hmm..

    aku jua hanyar tau dari buku ini, no. hehe

    Reply
  17. ayanapunya said: waa..mba tin, bukunya langsuh dikasih ke orang habis dibaca?

    kayanya kasih ke m.amel nih.. biasanya kalu abis baca suka bagibagi sih..

    Reply
  18. Wah, baru nemu review ini waktu gak sengaja googling habis sahur. Terima kasiiiih. Lucu juga baca komentar teman2 di sini hehehe….

    Reply
  19. Pengen punya buku ini

    Reply
  20. adesiti said: Wah, baru nemu review ini waktu gak sengaja googling habis sahur. Terima kasiiiih. Lucu juga baca komentar teman2 di sini hehehe….

    makasih udah mampir ke sini, mba ade🙂

    Reply
  21. fardelynhacky said: Pengen punya buku ini

    ayo dicariii! bagus bukunya🙂

    Reply
  1. Yang terbaca di 2012 | SAVING MY MEMORIES

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

sriwidiastuti

Just another WordPress.com site

Anastasye Natanel

the random things in life

rosimeilani.com

Rosi Berbagi Informasi Seputar Inggris, Travel dan Tips Menulis

%d bloggers like this: