FIGHT CLUB


Ketika pulang dari sebuah perjalanan bisnis, “aku” menemukan kondominium milikku terbakar. Tak ada yang tersisa. Bahkan perabotan Swedia yang kusuka hanya menyisakan abu. Saat itu, “aku” memiliki dua pilihan. Menghubungi Marla Singer, gadis yang kukenal di sebuah pertemuan penderita kanker. Atau menghubungi Tyler Durden, pria yang duduk di sampingku beberapa jam sebelumnya di pesawat. Saat itu, entah mengapa “aku” memilih menghubungi Tyler Durden.

“Aku” dan Tyler kemudian menghabiskan waktu di sebuah bar. Menghabiskan bergelas-gelas minuman sambil bercerita tentang kondominiumku yang terbakar. Dan seperti yang bisa kau tebak, pembicaraan malam itu berakhir dengan sebuah tawaran tinggal bersama dari Tyler. Well, bukan tawaran sebenarnya. Karena Tyler memaksaku mengatakan tujuan tersembunyiku menghubunginya.

Tinggal bersama Tyler, berarti “aku” harus siap menghadapi ide-ide gilanya. Membuat sabun dari lemak hasil liposuction, menyisipkan gambar tak senonoh dalam potongan film, dan (maaf) masturbasi di atas makanan di restoran. Jangan lupa dia juga bercinta dengan Marla Singer, gadis yang kusukai.

Tyler jugalah yang melahirkan Fight Club.

Aturan pertama Fight Club adalah jangan bicara tentang Fight Club.

Aturan kedua Fight Club adalah jangan bicara tentang Fight Club.

Mungkin kau berpikir dengan adanya peraturan pertama dan kedua tersebut, keberadaan Fight Club takkan diketahui orang-orang. Namun kau salah! Dengan cepat Fight Club tersebar. Orang-orang berdatangan untuk bergabung bersama kami, bertarung satu lawan satu hingga babak belur.

Mulanya “aku” menikmati segala kegilaan ini. Namun lama kelamaan “aku” merasa Tyler mulai bertindak di luar kontrolku. Aku tak protes saat ia bercinta dengan Marla Singer. Tapi mengumpulkan orang-orang di rumah untuk penghancuran kota? Jelas ini sudah kelewatan!  Tyler bahkan tidak memberitahuku terlebih dahulu soal Project Mayhem ini.

Jadi sekarang kurasa sudah saatnya bagiku untuk menghentikan kegilaan Tyler. Apapun caranya.

***

Fight Club diangkat dari novel laris karangan Chuck Palahniuk.

Untuk versi buku, awalnya saya merasa kesulitan untuk mencerna pilihan-pilihan kata dari Chuck Palahniuk. Namun semakin ke belakang, saya semakin sadar betapa kuatnya karakter dari novel ini.

Untuk versi film, bisa dibilang film dengan sukses memindahkan cerita tokoh aku dan Tyler Durden dari lembaran halaman ke gulungan film. Meski menurut saya ada sedikit pergeseran karakter tokoh aku di novel dengan di filmnya, namun semuanya tak terlalu mempengaruhi isi cerita. Saya sendiri secara pribadi lebih menyukai tokoh aku dalam versi film, yang diperankan oleh Edward Norton.

Singkat kata, baik versi novel ataupun versi filmnya, keduanya sama-sama bagus.

Judul  : Fight Club

Produksi : 1999

Sutradara : David Fincher

Pemain : Edward Norton, Bradd Pitt, Helena Bonham-Carter

Durasi : 139 menit

Skor Akhir : 4/5

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

sriwidiastuti

Just another WordPress.com site

Anastasye Natanel

the random things in life

rosimeilani.com

Rosi Berbagi Informasi Seputar Inggris, Travel dan Tips Menulis

%d bloggers like this: