THE PERKS OF BEING WALLFLOWER


Bagi Charlie, membayangkan hari-hari pertamanya di SMA bukanlah hal yang menyenangkan. Bayangan akan di-bully oleh kakak tingkat, juga kesulitan dalam mencari teman menjadi salah satu hal yang paling ia khawatirkan. Dan meskipun Candace, kakak perempuannya bersekolah di tempat yang sama dengannya, hal itu tidak serta-merta membantu Charlie. Ditambah dengan kepribadiannya yang cenderung pemalu dan tertutup, maka lengkaplah sudah gelar “Wallflower” tersemat kepadanya.

Karena tak ingin terus-terusan menyendiri, Charlie pun memutuskan untuk memulai pertemanan. Dalam sebuah pertandingan football, Charlie mendekati Patrick, salah seorang senior yang satu kelas dengannya.  Patrick yang periang menyambut perkenalan Charlie dengan hangat. Bersamaan dengan itu, Charlie juga berkenalan dengan Sam, saudara tiri Patrick.

Tak perlu waktu lama bagi Charlie untuk bisa bergabung dengan geng Patrick. Keramahan yang diberikan oleh Patrick dan Sam, juga teman-teman lain membuat tahun pertama SMA-nya terasa lebih berwarna. Charlie menjadi lebih bersemangat untuk belajar, mencoba hal-hal baru, dan tentu saja merasakan yang namanya jatuh cinta.

Adalah Sam, si cantik saudara tiri Patrick yang telah sukses mencuri hatinya. Namun karena Sam sudah keburu memiliki kekasih, Charlie memutuskan untuk menyimpan perasaannya. Charlie kemudian berkencan dengan Mary Elizabeth, salah satu anggota geng Patrick. Terjalinnya hubungan antara Charlie dengan Mary Elizabeth sendiri sebenarnya terjadi karena sebuah “kesalahan.” Dan karena sebuah kesalahan pula hubungan Charlie dan Mary Elizabeth kemuian harus berakhir. Sayangnya, putusnya hubungan Charlie dan Mary Elizabeth ternyata berimbas pada pertemanannya dengan Patrick dan geng-nya.

***

The Perks of Being Wallflower diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Stephen Chbosky (yang juga menyutradarai filmnya). Mengambil sudut pandang si tokoh utama, Charlie, dengan setting tahun 90-an, The Perks of Being Wallflower berhasil membawa saya pada sebuah kisah yang remaja yang komplit, ringan dan manis. Ada cinta di dalamnya, indahnya persahabatan, kehangatan keluarga, dan juga ada cita-cita.

Logan Lerman, si pemeran Charlie bermain cukup baik dalam film ini. Dia cute, imut, dan juga pemalu. Jelas sulit untuk tidak jatuh cinta padanya. Sedangkan Emma Watson, meskipun bermain cukup baik juga, namun masih sulit rasanya bagi saya untuk melepaskan karakter Hermione dari dirinya.

Jika ada keluhan saya tentang film ini, mungkin ada pada penyampaian rahasia Charlie yang disampaikan secara sepotong-sepotong dan terkesan tempelan. Padahal bisa jadi rahasia itulah yang menjadi salah satu kunci akan karakter Charlie yang tertutup ini.

Judul  : The Perks of Being Wallflower

Produksi : 2012

Sutradara : Stephen Chbosky

Pemain : Logan Lerman, Emma Watson, Ezra Miller

Durasi : 102 menit

Skor Akhir : 4/5

Leave a comment

2 Comments

  1. Sinta Nisfuanna

     /  March 28, 2013

    cakep banget ya Emma Watson *salah fokus*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

sriwidiastuti

Just another WordPress.com site

Anastasye Natanel

the random things in life

rosimeilani.com

Rosi Berbagi Informasi Seputar Inggris, Travel dan Tips Menulis

%d bloggers like this: